Skip to content
Home » Berita » JIHAD INTELEKTUAL: Meneruskan Perjuangan Ulama dalam Membangun Kemajuan Bangsa

JIHAD INTELEKTUAL: Meneruskan Perjuangan Ulama dalam Membangun Kemajuan Bangsa

Oleh: Nazwa Septiani.

Sejak dulu, dari masa Indonesia dijajah sampai sekarang peran Santri dan juga ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia sudah tidak diragukan lagi. Refleksi dan ingat kembali pada sejarah adalah sesuatu yang penting. Ingatan sejarah akan memberikan bekal bagi para santri pada zaman modern sekarang ini untuk selalu berbenah, memperbaiki kualitas diri demi kemajuan bangsa Indonesia ke depan.

Sejarah mencatat, para Santri bersama dengan pejuang bangsa lainnya memiliki peran besar dalam merebut kembali kedaulatan negara dari kolonialisme bangsa asing. Presiden Joko Widodo juga mengamini peran historis kaum santri. Mereka yang ikut berjuang dan memiliki peran dalam menjaga keutuhan Negira Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). antara lain KH Hasyim Asy’ari pendiri ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU). KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah. A Hassan dari Persis, Abdul Rahman dari Matlaul Anwar, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad. Belum lagi para perwira atau prajurit Pembela Tanah Air (Peta) yang banyak juga dari kalangan santri. Peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Mereka ikut merebut Indonesia. membangun Indonesia dan mempertahankan NKRI.

Sekarang ini, sejak 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional pada tahun 2015 lalu, hari itu menjadi refleksi bagi golongan santri dan bangsa untuk mengingat kembali sejarah perjuangan kaum pondok pesantren dalam berjuang melawan penjajah. Sejarah lahirnya Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober ini merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Tanggal 22 Oktober 1945 juga dianggap sebagai hari resolusi jihad yang menyatukan antara santri dan ulama untuk sama-sama berjuang mempertahankan Indonesia.

Memasuki 74 tahun kemerdekaan Indonesia, konteks jihad dalam fatwa resolusi jihad Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asyari pada saat itu tidak bisa disamakan dengan zaman milenial sekarang ini. Makna jihad harus di sesuaikan dengan konteks atau problem yang dihadapi.

Jihad adalah upaya untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Jihad tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik, tetapi juga mencakup perjuangan non-fisik, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Sudah seharusnya bagi santri untuk tetap melakukan jihad pada zaman modern ini. Akan tetapi jihadnya santri pada era modern ini tentu berbeda dengan jihad santri dan ulama terdahulu, yang harus berjuang dengan berperang untuk membela bangsa. Pertanyaannya bagaimana santri memahami jihad saat ini?

Menurut Gus Yaqut menteri agama Indonesia saat ini makna jihad tidak lagi perang sebagaimana masa lalu. Jihad santri saat ini adalah jihad intelektual, jihad yang mengarah pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Musuh santri saat ini bukan lagi penjajahan Belanda atau Jepang, tetapi musuh santri saat ini adalah kemiskinan dan obsesi. Juga melawan akan ketertinggalan dalam teknologi.

Dari sini, dapat kita ketahui bahwa jihad intelektual itu bukanlah sebatas hanya penguasaan ilmu pengetahuan semata atau ilmu untuk ilmu. Tetapi jihad yang memberdayakan sekaligus memerdekakan umat dari ketertinggalan. Dalam bahasa yang berbeda, jihad intelektual adalah jihad transformatif atau dapat juga dikatakan jihad yang memerdekakan.

Energi yang sangat besar yang dimiliki para santri dan siap untuk diletakkan itu haruslah diarahkan untuk penguasaan saina dan teknologi serta keterampilan, dengan tiga sanjata tersebut santri dapat melakukan perubahan dan pemberdayaan di masyarakat. Bukan saja kehidupan ekonominya yang berubah ke arah yang lebih baik, namun juga sosial politiknya juga akan semakin baik. Masyarakat benar-benar dapat disejahterakan.

Selanjutnya, santri dan era transformasi digital. Gagasan tersebut untuk menunjukkan kesadaran dan kepahaman akan masa depan bangsa. Pesantren tidak lagi terasing dengan perkembangan digital. Memang harus diakui, ada kesan jika pesantren terkesan sebagai lembaga yang paling lambat merespon perkembangan dunia digital atau dunia serba internet. Bahkan ada anggapan dunia pesantren haruslah steril dari perkembangan teknologi digital. Pesantren harus dijaga keasliannya. Bukan dengan keasliannya, pesantren ternyata berhasil melahirkan pemimpin bangsa yang hebat. Alasan ini kendati memiliki nilai kebenaran, namun tidak berarti harus dipertahankan. Karena, sekarang zaman sudah berbeda, jika kita tidak mengikuti perkembangan yang semakin modern maka kita akan tertinggal.

Kita dapat melihat bahwa santri pada zaman sekarang ini tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar ilmu umum, salah satunya adalah perkembangan iptek. Saat ini, sudah banyak pondok pesantren yang berevolusi menjadi pondok pesantren modern. Bahkan, ada beberapa ponpes yang didalamnya terdapat sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan berbagai jurusan yang ada. Jadi, selain mereka belajar ilmu agama, mereka juga tetap tidak tertinggal dengan perkembangan pada era modern. Sebab, diakui atau tidak, santri saat ini dihadapkan pada situasi yang lebih berat dengan adanya perubahan global yang begitu masif.

Dengan buku sebagai senjata dan pena sebagai tongkat kebijaksanaan, mereka memperdalam ilmu dan menyebarkan Cahaya. Santri juga ikut berjuang dan mengambil peran di era transformasi digital. Ikut mengisi ruang-ruang digital untuk penguatan literasi keagamaan yang moderat berdasarkan prinsip Islam rahmatan lil alamin. Tetapi mereka juga tidak tertinggal akan perkembangan teknologi digital.

Demikian, jihad di era modern ini, tidak sebatas peperangan. Untuk itu, santri diharapkan dapat berjihad untuk negeri dengan berbagai cara seperti meningkatkan kualitas pendidikan, dengan menjadi tenaga pengajar yang dapat mencetak generasi muda yang berilmu dan berakhlak mulia.

Santri adalah generasi yang akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan, karena itu santri tidak boleh berdiam diri dan pasrah pada takdir dan qadla tuhan. Santri harus mampu membaca zaman, serta bersikap sesuai keadaan zaman, serta mampu berjihad menampik problematik zaman yang kian banyak. Demikian tugas jihad intelektual santri era milenial. Santri harus terus berjuang membangun kejayaan negeri ini dengan semangat jihad intelektual di era transformasi digital, khususnya untuk melakukan jihad melawan ketidakpahaman, kebodohan, dan ketertinggalan, dalam mendukung terwujudnya kemajuan bangsa.

8 Kiprah ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia begitu panjang. Nama mereka juga telah tercatat dengan tinta emas sebagai syuhada (pahlawan). Oleh karena itu, sebaiknya kita bisa mempertahankan apa yang mereka perjuangkan selama masa penjajahan. Juga dalam mempelajari ilmu kita juga tetap harus balance, ilmu agama dipelajari tetapi ilmu umum juga tidak tertinggal. Itulah yang pantas disebut sebagai jihad intelektual.

Selamat hari santri Nasional, untuk mengingat kembali perjuangan para ulama dan santri dahulu yang sudah ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kami harap, saat ini para santri dan juga ulama tetap bisa mempertahankan Indonesia atau bahkan dapat memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan tema hari santri tahun 2023 yaitu “jihad santri, jayakan negeri” yang ditetapkan oleh Menteri agama, gus Yaqut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *