Skip to content
Home » Berita » BIOGRAFI KH. IMAM ZARKASYI : PELOPOR KEMODERNAN & INDEPENDENSI PESANTREN

BIOGRAFI KH. IMAM ZARKASYI : PELOPOR KEMODERNAN & INDEPENDENSI PESANTREN

Oleh: Hamdan Nayl

Imam Zarkasyi merupakan putra terakhir dari pasangan Kiai Santoso Anom Besari dan Nyai Sudarmi. Beliau lahir di Gontor, Jawa Timur, pada tanggal 21 Maret 1910. Ayahnya, Kiai Santoso, adalah pimpinan terakhir Pesantren Gontor Lama dan sangat zuhud. Ayahnya wafat ketika dia berusia 8 tahun. Nyai Sudarmi, ibunya, akhirnya bertekad untuk mempertahankan nilai-nilai keluarganya agar anak-anaknya kelak mengurus Pondok Pesantren. Nyai Sudarmi berusaha keras untuk meneruskan perjuangan sang suami dengan bekerja di sawah peninggalan suaminya. Selain upaya fisik, Nyai Sudarmi juga selalu melakukan shalat tahajjud, berdo’a, dan bibirnya penuh dengan zikir.

Imam Zarkasyi mulai belajar di beberapa pesantren di daerah kelahirannya pada usia 16 tahun. Di antaranya seperti Pesantren Josari, Pesantren Joresan, dan Pesantren Tegalsari. Beliau pergi ke Pondok Pesantren Jamsarem Solo setelah lulus dari Sekolah Ongkoloro pada tahun 1925. Imam Zarkasyi juga belajar di Sekolah Mamba’ul Ulum pada waktu yang sama. Setelah itu, Beliau belajar di Sekolah Arabiyah Adabiyah yang dipimpin oleh KH. M. O. Al-Hisyami sampai tahun 1930. Imam Zarkasyi sangat tertarik dengan pendidikan di sekolah-sekolah ini terutama Sekolah Arabiyah Adabiyah dan mulai mempelajari bahasa Arab. Imam Zarkasyi kemudian melanjutkan pendidikannya di Kweekschool pimpinan Mahmud Yunus di Padang Panjang.

Setelah menyelesaikan studinya di Kweekschool, gurunya, Mahmud Yunus, memintanya untuk menjadi direktur sekolah. Namun, Imam Zarkasyi hanya dapat memenuhi syarat selama satu tahun karena posisi itu cukup tinggi, Beliau merasa bahwa itu bukanlah tujuan utamanya setelah belajar di sana. Mahmud Yunus menilai Imam Zarkasyi sebagai guru yang luar biasa, tetapi ia melihat bahwa Gontor lebih membutuhkannya. Selain itu, kakaknya Ahmad Sahal, yang berusaha keras untuk meningkatkan pendidikan di Gontor, tidak mengizinkan Imam Zarkasyi untuk tinggal di luar pendidikan Gontor untuk waktu yang lama.

Imam Zarkasyi kemudian kembali ke Gontor setelah menyerahkan jabatannya sebagai direktur Kweekschool kepada Mahmud Yunus. Pada tahun 1936, genap sepuluh tahun setelah mengubah Gontor menjadi institusi pendidikan yang inovatif, Imam Zarkasyi memimpin program pendidikan baru yang disebut Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI).

Pondok Gontor Modern disebut modern karena sistem pendidikannya mengajarkan bukan hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum untuk mempersiapkan santri untuk hidup di masyarakat. Di Gontor para guru diberi ilmu alat, yaitu bahasa dan metodologi berpikir. Dengan ilmu alat ini, para guru dapat belajar mandiri dengan berbagai metode seperti membaca buku. Output dari sistem pendidikan di Gontor ini akhirnya membawa para alumninya pergi ke luar negeri, baik ke Timur maupun ke Barat.

Imam Zarkasyi melihat pengembangan Pondok Pesantren sebagai langkah pertama dalam mendirikan institusi pendidikan. Ada tujuan mulia untuk dicapai. Beliau mengatakan bahwa Pondok Pesantren adalah tempat di mana generasi muda dilatih. Imam Zarkasyi percaya bahwa Pondok-Pondok Pesantren telah ada di Indonesia jauh sebelum sekolah-sekolah umum berfungsi sebagai tempat untuk mendidik para pemuda pejuang bangsa. Beliau mengatakan, “Pendidikan di Pondok Pesantren itulah sebenarnya pendidikan nasional, yang murni.” Oleh karena itu, ia dan dua kakaknya, K.H. Sahal dan K.H. Fanani, berusaha keras untuk menghidupkan kembali Pondok Pesantren Gontor Lama. “Naluri itu adalah untuk melanjutkan perjuangan ayah kami untuk mempertahankan pondok. Namun, jenis pondok yang mana? Di sanalah muncul ide-ide baru,” katanya.

Sejak awal, Pondok Pesantren Gontor dikenal karena berhasil mengajarkan siswanya bahasa, terutama bahasa Arab dan Inggris. Ini awalnya berasal dari ketidakpuasan Imam Zarkasyi dengan cara Pondok-Pondok Pesantren mengajarkan bahasa asing. “Saya belajar bahasa Arab selama bertahun-tahun, tetapi saya tidak bisa menulis atau berbicara dengan baik.” Imam Zarkasyi berpikir itu karena metode pengajarannya, bukan karena muridnya yang bodoh. Imam Zarkasyi melihat bahwa belajar bahasa menggunakan metode yang kompleks tanpa didukung dengan keterampilan yang tepat. Untuk mengatasi hal ini, Beliau membuat gagasan baru bahwa banyak latihan lisan dan tulisan adalah cara mengajarkan bahasa asing. Ini berbeda dengan sistem tradisional, yang terlalu menekankan pada gramatika tetapi tidak menggunakannya dengan baik.

Semboyan Imam Zarkasyi yang terkenal adalah “al-kalimah al-wahidah fi alf jumlatin khairun min alf kalimah fi jumlatin wahidah”, yang berarti bahwa mengucapkan seribu kata dalam seribu susunan kalimat lebih baik daripada mengucapkan seribu kata hanya dalam satu kalimat. Imam Zarkasyi juga menekankan pentingnya akhlak dalam menuntut ilmu, seperti yang dilakukan oleh sistem pendidikan Pondok Pesantren. Semua ini berfungsi bersama dan memiliki nilai tersendiri selama proses pembelajaran.

Pondok Pesantren Gontor berbeda dari kebanyakan Pondok Pesantren di Indonesia karena ada keinginan untuk menjadi independen. Kiai atau pimpinan Pondok Pesantren adalah figur penting di dalamnya. Kiai dianggap sebagai panutan utama oleh konsep sami’na wa ato’na. Jika seorang kiai berpartisipasi dalam aliran politik atau mahzab tertentu, para santrinya akan dibawa ke arah itu juga. Jika seorang Kiai mengambil sikap politik tertentu, ia akan menghindari sikap politik lainnya. Ini adalah alasan mengapa Pondok Pesantren terbawa ke arah posisi Kiai. Itu juga yang menyebabkan Pondok Pesantren dijauhi oleh kelompok politik dan mazhab yang tidak konsisten. Oleh karena itu, di Pondok Pesantren Gontor akhirnya ditanamkan prinsip ke mandirian dan bebas mazhab. Gagasan ini dipraktikkan dengan riil dalam bentuk tidak berdiri untuk satu golongan, tapi, Gontor di atas dan untuk semua golongan.

Ibn Rusyd salah satu guru di Pondok Pesantren Gontor menggunakan pendekatan multi mahzab dalam tulisannya. Dengan demikian, para guru diberi semua versi, dan masing-masing diberikan sepenuhnya untuk menerapkannya. Konsep independensi memungkinkan lulusannya untuk memilih sendiri masa depannya. Imam Zarkasyi mengatakan, “Gontor tidak mencetak para santrinya agar menjadi pegawai, tapi menjadikan mereka majikan untuk dirinya sendiri.”

K.H. Imam Zarkasyi meninggal dunia pada 30 Maret 1985, meninggalkan seorang istri dan sebelas anak. Setelah generasi berikutnya, mereka terus berkomitmen untuk menjadikan Gontor sebagai Pondok Pesantren yang tidak terpengaruh oleh kepentingan politik atau madzhab tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *